Aktivitas
PERIKANAN MINA TALOK


Mina talok merupakan kelompok tani warga Jongke Kidul. Mina talok terletak di sebelah tenggara Jongke Kidul, bersebelahan dengan sungai Talok. Mina Talok memiliki beberapa kolam kelompok dan 30 kolam yang masing –masing dimiliki anggota mina talok.
Saat ini Mina Talok diketuai oleh bapak Sukidjo. Sulis sebagai bendahara dan pak Anto sebagai bendahara. Mina talok berasal dari kata mina (ikan) dan talok (sejenis buah). Diberi nama talok karena dahulu daerah di sekitar mina talok terdapat pohon-pohon talok. Mina talok mengembangkan beberapa jenis ikan yaitu: bawal, gurami, nila, grass cup dan lele. Mina talok juga dipakai sebagai hiburan dan penghasilan anggota
Setiap hari ikan-ikan dirawat oleh anggota secara bergiliran. Pada hari tertentu, anggota-anggota akan berkumpul dan bersama-sama merawat kolam dan ikan mina talok.
Mina talok mengandalkan iuran anggota untuk bertahan hidup. Saat ini mina talok terkendala dalam pembuatan bendungan karena kekurangan dana.
PETERNAKAN MANUNGGAL


Manunggal merupakan perhimpunan peternakan antara wilayah Jatirejo dengan wilayah Jongke Kidul. Manunggal telah berdiri selama 14 tahun. Pada tahun 1993, desa Sendangadi memiliki potensi ternak yang besar, tetapi manajemennya kurang baik dan belum terkelola. Dan di tahun itu juga, Dinas Kesehatan mengadakan penyuluhan tentang kesehatan lingkungan, dimana lingkungan yang sehat itu seharusnya memisahkan antara lahan ternak dengan daerah pemukiman penduduk.
Penyuluhan ini ditanggapi secara antusias oleh warga dan perangkat desa. Lalu, warga dan perangkat desa bersama-sama berinisiatif untuk membentuk perkumpulan peternakan yang disebut Manunggal, karena merupakan penyatuan antara peternakan Jatirejo dan Jongke Kidul.
Lalu, warga Jatirejo dan Jongke Kidul membuat proposal untuk penyediaan lahan ke kabupaten Sleman dan akhirnya terealisasi pada tahun 1995. Sejak saat itulah, aktivitas kelompok Manunggal ini dimulai.
Pada awalnya, kelompok Manunggal terdiri atas 114 peternak. Anggota Manunggal saat itu diwajibkan untuk membantu pembayaran dana sewa tanah dari pabrik ke desa, karena lahan yang digunakan merupakan lahan pabrik, sebelum digunakan oleh kelompok ini. Dan masing-masing peternak mendapat jatah lahan seluas 10m x 11m (1 kapling). Sampai dengan saat ini, para anggota Manunggal, setiap tahunnya juga membayar sewa tanah per tahun sebesar Rp 30.000.
Tempat untuk lahan peternakan Manunggal berada di wilayah desa Sendangadi juga, karena peternakan Manunggal ini merupakan kas desa dan akan lebih mudah untuk dilakukannya pengawasan demi keamanan.
Beberapa permasalahan yang saat ini masih dihadapi oleh kelompok Manunggal adalah manajemen ekonomi yang kurang baik, yaitu banyak peternak yang langsung menjual hasil ternaknya, tanpa memperkirakan kesinambungan usaha peternakannya. Selain itu, masalah krusial yang saat ini sedang dihadapi adalah terancamnya eksistensi lahan peternakan Manunggal, karena adanya usulan perencanaan kembali tata kota yang kemungkinan besar akan mengganti lahan peternakan yang sudah ada ini dengan fasilitas-fasilitas masyarakat kota, seperti perumahan, lapangan olahraga,dsb.
mbok mina talok, yooo taloke ojo d tegori, katimbang gawe gubuk, keno kanggo ngeyub, manuk2 golek talok, bocah2 seneng talok,angeluri indentitase, jaman ndisik ono wit talok karo wit gayam
sapine P Kadi lan wedusss … e P. Rizal lemu2 ora ! ojo sregep ngedol tapi ora sregep ngariiit semangat merdeka kanggo keluarga mugo2 selalu berkah